aku masih memegang ucapan yang kemarin
bahwa adalah kau yang menghapus kerak yang pernah tumbuh menebal di sekepal daging merahku
yang hampir berlumut karena aku sendiri tidak mau menyentuhnya lagi
aku masih memegang ucapan yang kemarin
bahwa adalah kau yang menghapus kerak yang pernah tumbuh menebal di sekepal daging merahku
yang hampir berlumut karena aku sendiri tidak mau menyentuhnya lagi
his mind?
ini sajak tentang seseorang
dan debar-debar
dimulai dengan satu pertemuan pada satu malam,
dua cangkir minuman dan kudapan ringan
obrolan-obrolan dan tawa yang bersahutan.
pertama hanya ada senang, kemudian perasaan lain menyelundup kurang ajar,
menyelusup jauh mecengkeram jantung dan pernapasan,
berdengik-dengik tertahan setiap bertukar pandangan
ini sajak tentang seseorang
dan debar-debar
mereka duduk berdua, dalam bianglala sempit tiga warna,
dia membuang pandangan ke luar jendela, sedang tangannya kedinginan, gemetar
langit malam masih tetap hitam, tapi pijar lampur benderang silau
kincir masih perlahan, kemudian mempercepat diri, seakan dipasang seirama dengan detak nadi.
waktu habis, kincir berhenti, keluar dari sarang sambil tersenyum lebar, tapi tetap saja dadanya menggelegar
ini sajak tentang seseorang
dan debar-debar
di tengah lapangan penuh orang-orang
mereka tertawan oleh keramaian
takut tenggelam karena desakan
dia menggamit lengan,
lantas sadar bahwa tak akan ada yang bisa dihilangkan atau menghilang
karena cukup satu genggaman, dan dia larut dalam pelukan ringan
mesiu ditembakkan, sejuta kupu-kupu menggelepar!
ini sajak tentang seseorang
dan debar-debar
masih berjalan, masih ada waktu untuk bergandengan
tapi kerumunan memudar
perlahan melepas lengan lelakinya,
sambil kembali menerawang dan berbiisik pelan
“sudah malam..”
ini sajak tentang seseorang
dan debar-debar
pertemuan sudah usai
pertemuan ini telah ditanam baik-baik oleh ingatan
menjadi bibit terbaik untuk disemai sejak malam-malam terakhir penghujung tahun
hingga akhirnya tumbuh dan menggugurkan daunnya tiap hujan..
bahagia adalah
aku; secangkir (sangat) kecil machiato, kamu; segelas besar hot chocolate dan sepiring banana chococheese.
ALL in one single table

di hadapan beratus pasang manusia, aku gugup lantas tidak sengaja menggamit lenganmu, untuk beberapa detik menjelma penumpang pesawat udara
kamu adalah pilot andalan
aku penumpang amatiran
kekhawatiran kecil takut tersesat, di langit malam pekat
aku gantungkan keselamatan di tanganmu.
lantas pesawat kita mengudara dengan lepasnya
belum ada namanya perasaan ini, sayang.
yang saya tahu, mendadak rasanya mampu membangun taman kupu-kupu dalam semalam —karena mereka berbiak mendesak di dalam perut—
ini bukan perkara mencintai dalam diam, sayang.
karena perasaan ini belum ada namanya
saya belum mau menyebut-nyebut nama kamu depan Tuhan, saya masih belum percaya dengan keputusan Dia tentang kamu. maka sampai saat ini saya belum berani memberi kamu judul.
aku ingin menyalahkan Tuhan.
Dia menciptakan terlalu banyak bahasa sampai-sampai kita bingung kalau mau bicara.
aku ini bukan semacam multi-language-able yang paham bahasa sampai ke rusuk-rusuknya, bukan semacam translator handal yang dicurigai menelan google-translate sebagai sarapan.
aku ingiiiin sekali menyalahkan Tuhan.
perkara penanaman pemahaman ini berada di luar jangkauan akal sehat.
eh. jangan bilang kalau aku mesti sakit jiwa dulu uintuk paham?!
ya ya ya.
bukannya disebutkan bahwa si pesakitan jiwa itu memahami dunia lain yang tidak mampu diterjemahkan si sehat?
oh tunggu.
aku tidak rela menggadaikan jiwa hanya untuk sebuah bahasa.
lagi-lagi aku ingin meyalahkan Tuhan.
andai saja hanya ada satu bahasa.
biar aku bisa paham kau dalam satu tutur.
biar kau mengerti aku dalam satu cakap.
dua kita adalah sepasang bocah yang gagal total bermain petak umpet.
satu sudah jauh hari menyerah berusaha menemukan.
satu tak kunjung rela muncul menampakkan diri.